Benarkah Kepala Peyang Memengaruhi Kecerdasan Otak?

Bagi orangtua yang baru saja memiliki bayi, pasti selalu ingin bayinya memiliki kondisi yang baik dan sempurna. Salah satu kondisi yang kerap membuat orangtua khawatir kepala peyang atau plagiocephaly.

Plagiocephaly ditakutkan memperlambat perkembangan otak karena perubahan dan tekanan tengkorak otak. Namun benarkah hal itu?

Apa itu kepala peyang?

Kepala peyang atau bahasa medisnya plagiocephaly merupakan kondisi di mana tengkorak bayi berbentuk mendatar baik di salah satu sisi atau bagian belakang kepala (brachycephaly). Plagiocephaly bisa terjadi saat lahir atau terbentuk seiring waktu bayi bertumbuh.

Posisi tidur telentang tanpa mengubah posisi kepala adalah penyebab utama plagiocephaly. Kondisi umum terjadi pada bayi dan masih dapat dicegah dengan penanganan dini. 

Selain plagiocephaly, ada juga craniosynostosis yang merupakan kondisi kepala peyang yang lebih parah. Terjadi saat bayi masih berada di dalam kandungan, kondisi ini terjadi saat sendi yang berada di antara tengkorak bayi tumbuh terlalu cepat. 

Penyebab craniosynostosis masih belum diketahui jika tidak disertai gejala penyebab lainnya. Bisa saja termasuk sindrom genetik seperti Pfeiffer atau Crouzon yang juga mengakibatkan sejumlah gejala dan masalah di beberapa bagian tubuh lainnya. 

Benarkah bisa mempengaruhi kecerdasan otak?

Banyak orangtua yang merasa takut soal kepala peyang, karena disebutkan bahwa kondisi ini dapat memperlambat perkembangan otak karena bentuk kepala yang tidak sempurna. Sehingga secara tidak langsung dapat memengaruhi kecerdasan sang bayi.

Namun faktanya, plagiocephaly yang disebabkan oleh kesalahan posisi tidur tidak menyebabkan hal tersebut. Terlebih jika langsung segera ditangani sejak usia muda.

Plagiocephaly juga tidak menimbulkan komplikasi yang serius. Berbeda dengan craniosynostosis, jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi yang sangat serius, seperti:

  • Cacat bentuk kepala (deformities), kemungkinan besar parah dan permanen
  • Peningkatan tekanan di dalam kepala
  • Kejang
  • Perkembangan lambat

Selain craniosynostosis, leher tegang (torticollis) yang terjadi karena sindrom yang tak segera diatasi juga dapat memperlambat perkembangan dini bayi. Biasanya dokter akan merekomendasikan fisioterapi untuk mengatasi torticollis.

Seiring bertambahnya usia, bayi yang mengalami kepala peyang akan beradaptasi dan tumbuh secara alami. Sebab mereka akan mulai berpindah posisi saat tidur sehingga tidak berada dalam satu posisi terus-menerus.

Saat mereka sudah mulai bisa duduk sendiri, biasanya pertumbuhan tengkorak kepalanya kembali normal dan membaik. 

Cara mencegah kepala peyang

Berita baiknya, kepala peyang merupakan kondisi yang dapat dicegah. Bahkan hanya melalui beberapa cara sederhana berikut ini;

1. Perbanyak waktu tengkurap atau tummy time

Lakukan setidaknya 30 menit tiap hari dan selalu awasi. Tummy time dapat membantu pertumbuhan tengkorak bayi kembali normal, menguatkan otot yang dibutuhkan untuk mendorong dengan lengannya dan juga lehernya saat mengangkat kepala sehingga mencegah terjadinya torticollis/

2. Ubah posisi tidur

Saat menidurkan bayi, sebaiknya posisikan berlawanan dari posisi saat Anda menggendongnya. Atau rutin mengubah posisi kepala saat tidur juga dapat membantu, tidak perlu menggunakan bantal agar mengurangi risiko kematian dini (SIDS).

3. Rutin menggendong bayi

Tidak ada yang salah menggunakan carrier, car seat, ataupun gendongan, namun lebih baik hanya sementara dan perbanyak waktu anak Anda dalam gendongan Anda sendiri. Sehingga membantu mengurangi tekanan permukaan datar pada kepala anak.

Jika Anda menyadari bahwa bayi Anda mengalami sindrom kepala peyang atau plagiocephaly, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu mengenai penanganannya pada dokter. Dokter juga dapat mengecek apakah bayi Anda mengalami craniosynostosis atau tidak. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *