Efek Samping Albothyl untuk Sariawan dan Bahaya Lainnya

Sempat jadi salah satu obat sariawan yang populer, albothyl resmi dibekukan pemerintah Indonesia, melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pada awal 2018 silam. Kondisi ini terjadi lantaran efek samping albothyl untuk sariawan tergolong tidak main-main.

Menanggapi situasi ini, PT Pharos Indonesia selaku produsen bersikap legowo. Setelah keputusan diambil BPOM, salah satu perusahaan farmasi yang beroperasi di Indonesia ini segera menarik produknya.

Menurut BPOM, efek samping albothyl untuk sariawan tersebut datang dari salah satu kandungannya, yakni policresulen. Sebenarnya, potensi efek samping policresulen yang ada di dalam albothyl bukan hanya ada bagi sariawan. Ia punya kemungkinan lain, sebab albothyl tidak hanya digunakan sebagai obat sariawan. 

Sariawan HIV rasanya lebih sakit dan lebih parah ketimbang sariawan biasa

Lebih dari itu, albothyl juga dapat diperuntukkan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan, serta penggunaan pada kulit, telinga, hidung, tenggorokan (THT), termasuk penggunaan vaginal (ginekologi). 

Efek samping albothyl untuk sariawan adalah membuat luka di jaringan bibir itu bertambah besar. Pada penggunaan albothyl, sariawan seolah memang sembuh. Namun, risiko lainnya yang bisa ditimbulkan seperti sariawan bertambah besar dan sakit.

Hal itu terjadi lantaran disebabkan oleh sariawan yang terlalu besar, policresulen diberikan secara terus-menerus, tubuh yang tidak mampu untuk membentuk jaringan baru yang sehat, atau sariawan yang diderita bukan sariawan biasa.

Di luar efek samping albothyl untuk sariawan seperti yang sudah disinggung sebelumnya, berikut beberapa kemungkinan bahaya lain dari penggunaan albothyl:

  • Infeksi

Sebelum akhirnya resmi dibekukan, dalam 2 tahun (2016-2018) BPOM menerima 38 laporan dari profesional kesehatan dan pasien dengan keluhan efek samping albothyl untuk sariawan. Di antara efek samping serius yaitu sariawan yang membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi (noma like lesion).

  • Vasokonstriksi

Vasokonstriksi adalah istilah medis untuk kondisi penyempitan pembuluh darah perifer. Vasokonstriksi dapat terjadi di mana saja, dalam kasus albothyl, kondisi ini terjadi pada daerah sariawan yang menyebabkan suplai darah pada daerah sariawan terhenti. Hal itu membuat jaringan sariawan menjadi mati sehingga rasa perih pada sariawan sesaat hilang setelah diberikan policresulen.

  • Deskuamasi

Deskuamasi jaringan atau pengelupasan kulit juga menjadi efek samping albothyl untuk sariawan. Efek samping ini bisa langsung terjadi apabila digunakan dengan cara berkumur. Sesaat setelah dikumur, akan terlihat terjadinya kulit mulut yang terkelupas.

  • Berbahaya bagi daerah kewanitaan

Efek samping albothyl yang terjadi di area kewanitaan tidak hanya sekadar iritasi biasa. Lebih jauh dari itu, penggunaan albothyl bisa memberikan rasa tidak nyaman, karena kering, pada organ intim wanita. Bahkan, efek sampingnya bisa membuat kondisi vagina seperti mengalami luka bakar.

Sedikit informasi terkait peredaran albothyl di Indonesia

Sebelum benar-benar hilang dari pasaran, albothyl sudah beredar di pasar obat Indonesia selama 35 tahun (hingga 2018). PT Pharos Indonesia merupakan pemegang izin edar albothyl di Indonesia. Indonesia sendiri bukanlah satu-satunya negara yang memanfaatkan albothyl. Produk ini juga tersebar di banyak negara. Albothyl sendiri berada di bawah lisensi Jerman. Merek tersebut dibeli perusahaan Takeda dari Jepang. 

Pembekuan izin edar albothyl pada Februari 2018 sendiri bermula dari sebuah “curhatan” yang dilayangkan seorang dokter spesialis gigi dan mulut. Widya, nama dokter tersebut, menuliskan pengalaman pasiennya di media sosial Twitter pada 2014. Sang pasien mendatangi Widya dengan kondisi rongga mulut yang cukup parah. Si pasien, yang akhirnya meninggal dunia, mengaku menggunakan albothyl sebelumnya.

Dua bulan setelah bercuit di Twitter, dr. Widya disomasi PT Pharos Indonesia. Bola salju permasalahan ini terus bergulir hingga akhirnya Widya mengirimkan data pasien tadi ke BPOM pada 2015 bersama 20-an data pasien lain yang ada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Seluruh data itu terkait efek samping albothyl untuk sariawan. Baru pada 2018-lah akhirnya BPOM benar-benar menarik produk ini dari pasaran.