Ini Dia Pembeda Gejala Chikungunya dengan DBD

Seperti dengan penyakit DBD, penyakit chikungunya juga ditularkan ke manusia dengan perantara nyamuk. Nyamuk Aedes albopictus dan Aedes aegepty menjadi penyebar utama virus yang menyebabkan chikungunya dan dengue pada manusia. Tidak hanya memiliki kesamaan dari cara penularan, gejala chikungunya dan DBD juga memiliki kesamaan.

Kasus terjangkitnya manusia oleh penyakit chikungunya pertama kali diketahui di Tanzania. Selang beberapa waktu setelahnya, chikungunya ditemukan di beberapa negara di Eropa Selatan, Asia Tenggara, dan juga Afrika.

Pada tahun 2013, penyakit chikungunya terbawa ke Amerika Serikat yang diduga dibawa oleh warganya yang baru kembali dari daerah terjangkit endemis ini. Pasalnya, seiring dengan semakin majunya teknologi dan moda transportasi, manusia dengan mudah dapat berpindah dari suatu wilayah ke wilayah lain.

Sementara itu, pada tahun 2017, tercatat sebanyak 126 kasus chikungunya ditemukan di Aceh dan Sulawesi Tengah, Indonesia.

Apa saja gejala chikungunya yang perlu diwaspadai?

Gejala chikungunya yang paling umum terjadi, yaitu nyeri sendi (atralgia) yang menyebabkan orang yang terinfeksi virus tersebut seperti memiliki postur tubuh bungkuk akibat menderita rasa sakit pada seluruh sendi tubuh.

Seseorang yang terinfeksi chikungunya baru akan memunculkan gejala setelah 3-7 hari terinfeksi. Gejala yang perlu diperhatikan, antara lain demam dengan lebih 38 derajat Celcius disertai dengan nyeri pada sekitar persendian lutut, pergelangan tangan, jari kaki, tangan, dan tulang belakang.

Penderita chikungunya juga mungkin akan memiliki gejala lain, seperti pembengkakan pada sendi, mual, lemas, dan juga ruam yang muncul di sekitar area kulit tertentu.

Memang, gejala chikungunya yang disebutkan serupa dengan gejala DBD. Tidak jarang, pasien chikungunya pada sering salah didiagnosis sebagai DBD. Namun, tidak seperti DBD, belum ditemukan kasus kematian akibat penyakit chikungunya di Indonesia. Walaupun begitu, gejala nyeri sendi yang dialami pasien dapat berubah menjadi kasus yang lebih serius.

Gejala chikungunya nyeri sendi dapat bertahan dalam waktu yang lama, sehingga menghambat aktivitas dan mobilitas seseorang, bahkan menurunkan kualitas hidup.

Berdasarkan penelitian Chang AY et al yang dilakukan pada tahun 2015, disebutkan bahwa setidaknya satu dari empat penderita chikungunya mengalami nyeri sendi bahkan setelah 20 bulan setelah mereka terinfeksi. Kondisi ini tentu sangat berbahaya, terutama bagi seseorang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti pasien diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan kelompok usia yang rentan terhadap infeksi penyakit.

Pembeda gejala chikungunya dan DBD

Gejala chikungunya dan DBD memiliki kesamaan, seperti timbulnya rasa nyeri disertai dengan demam tinggi secara mendadak. Namun, pada pasien chikungunya, nyeri sendi ini terasa lebih berat dan menyakitkan, sehingga mengganggu pergerakan anggota tubuh.

Pemeriksaan di laboratorium dengan cara pemeriksaan molekuler menjadi satu-satunya cara untuk mengonfirmasi gejala tersebut, apakah terserang DBD atau chikungunya. Selain pemeriksaan tersebut, belum terdapat cara mendiagnosis chikungunya secara efektif dan efisien.

Metode pengobatan yang tersedia sebatas untuk mengatasi gejala chikungunya saja. Obat yang diberikan pada pasien akan membantu untuk mengurangi rasa nyeri sendi dan menurunkan demam.