Waspadai Necrotizing Fasciitis! Cepatnya Penanganan Bisa Menyelamatkan Nyawa

Pernahkah Anda bayangkan bahwa luka di kulit bisa menyebabkan kematian? Jika tak pernah terbayangkan sebelumnya, Anda harus mengetahui tentang necrotizing fasciitis. Ya, kondisi ini “cuma sekadar” infeksi yang terjadi pada luka. Namun, dampak dan efeknya amat serius.

Necrotizing fasciitis kerap disebut juga dengan penyakit atau infeksi “bakteri pemakan daging”. Ini termasuk infeksi bakteri yang langka dan bisa disebabkan oleh beberapa jenis bakteri. Namun, para ahli meyakini bahwa sebagian besar infeksi ini disebabkan oleh bakteri yang tergabung dalam Group A Strep atau kelompok bakteri A Streptococcus.

Ketika telah menginfeksi, bakteri ini akan menyebar dengan cepat di seluruh tubuh penderitanya hingga menimbulkan komplikasi serius hingga kematian. Kunci agar selamat dari serangan bakteri ini adalah diagnosis yang akurat, pengobatan antibiotik yang cepat, dan penanganan medis lain yang cepat dan tepat. Segera temui dokter jika kulit Anda menjadi merah, hangat, bengkak, atau sangat nyeri segera setelah mengalami luka.

Mendengar namanya, mungkin infeksi ini amat mengerikan. Akan tetapi, itu hanya istilah belaka. Pasalnya, bakteri ini tidak benar-benar memakan daging atau otot seseorang. Bakteri ini “hanya” melepaskan racun yang akan merusak jaringan di sekitarnya, termasuk kulit, lemak di bawah kulit, dan jaringan tipis yang membungkus organ atau otot (fascia).

Secara umum, orang yang terinfeksi bakteri ini akan melalui 3 tahap gejala. Tahapan itu terbagi ke dalam tahap awal, lanjutan, dan kritis. Informasi mengenai tahapan gejala ini bisa sangat penting untuk dapat menyelamatkan kondisi penderita.

  • Gejala awal

Gejala awal infeksi biasanya terjadi dalam waktu 24 jam dan meliputi demam serta nyeri berat pada bagian tubuh yang terluka. Rasa sakit yang dirasakan penderita bisa melebihi bentuk atau ukuran luka.

  • Gejala lanjutan

Gejala lanjutan biasanya terjadi dalam waktu 3–4 hari setelah bakteri masuk ke dalam tubuh. Pada tahap ini, infeksi bakteri pemakan daging dapat menimbulkan gejala mual, muntah, dan diare. Selain itu, bagian tubuh yang terinfeksi akan tampak kemerahan, bengkak, dan muncul bercak gelap berukuran besar yang tampak melepuh berisi cairan (gangren).

  • Gejala kritis

Gejala kritis muncul dalam waktu 4–5 hari setelah penderita terinfeksi bakteri. Pada tahap ini, penderita dapat mengalami penurunan tekanan darah drastis (syok) akibat racun yang dikeluarkan oleh bakteri. Jika tidak segera ditangani, penderita bisa mengalami penurunan kesadaran atau koma, bahkan meninggal.

Jadi jangan pernah sepelekan luka, sekecil apa pun itu. Sebab kita tak pernah tahu ada apa di balik luka tersebut. Orang yang menderita necrotizing fasciitis sebisa mungkin harus mendapat penanganan sejak tahap gejala pertama untuk meminimalisir risiko.

Hal pertama yang dapat dilakukan dalam rangka kewaspadaan terhadap necrotizing fasciitis adalah melakukan perawatan luka dengan cepat dan tepat. Upaya yang bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama misalnya membasuh, mensterilkan, dan membasuh luka. Andai luka tersebut semakin parah atau tidak kunjung sembuh, apalagi jika muncul beberapa gejala infeksi bakteri pemakan daging, segeralah berobat ke dokter.

Ketika berada di bawah pengawasan dokter, mungkin tenaga medis akan melakukan beberapa hal untuk mengetahui secara pasti mengenai luka tersebut. Untuk mendiagnosis necrotizing fasciitis, dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan yang terdiri dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, seperti tes darah, kultur darah, foto Rontgen, dan CT scan.

Saat terbukti seseorang terkena necrotizing fasciitis, dokter akan melakukan upaya pengobatan sesuai dengan kondisi mereka. Sebagai tahap awal, biasanya dokter akan memberikan obat-obatan, utamanya antibiotik, dalam bentuk suntik atau infus untuk membasmi infeksi bakteri pemakan daging.

Namun, jika tingkat infeksi necrotizing fasciitis telah mencapai tingkat lanjut, tindakan bedah atau operasi juga sering kali perlu dilakukan untuk mengangkat jaringan yang rusak atau mati, sekaligus mencegah dan menghentikan penyebaran infeksi. Pada kasus yang parah, dokter mungkin perlu melakukan amputasi pada bagian tubuh yang sudah rusak parah.

Kurang lebih itulah gambaran mengenai betapa bahayanya infeksi necrotizing fasciitis ini. Upaya terbaik yang bisa seseorang lakukan agar terhindar dari infeksi ini adalah waspada dan berhati-hati dalam berkegiatan agar tak mengalami kecelakaan. Seandainya terjadi, seseorang bisa langsung melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan standar untuk memperkecil risiko infeksi.