Bahayanya Berhenti Minum Antibiotik Saluran Kemih Tanpa Anjuran Dokter

Penyakit infeksi saluran kemih, mungkin sudah tidak asing lagi bagi para wanita. Infeksi ini merupakan penyakit yang sering terjadi pada wanita, khususnya ibu hamil. Dokter pun dengan sigap akan meresepkan antibiotik saluran kemih untuk mengobati keluhan ini. Sebelum memberikan antibiotik saluran kemih, dokter terlebih dulu akan memastikan apakah Anda benar-benar menginap infeksi saluran kemih.

Hal ini sangat penting mengingat penyakit ini memiliki gejala yang mirip dengan penyakit lainnya, seperti kandung kemih yang terlalu aktif, batu ginjal, bahkan infeksi kelenjar kemih. Pada umumnya dokter akan memberikan antibiotik minum karena kebanyakan kasus infeksi saluran kemih terjadi pada saluran kemih bagian bawah. Namun, jika infeksi saluran kemih terjadi pada bagian atas, maka dokter akan memberikan antibiotik lewat suntikan.

Berapa lama Anda harus mengonsumsi antibiotik saluran kemih?

Biasanya, Anda hanya perlu menghabiskan antibiotik dengan dosis untuk 2 hingga 3 hari. Tetapi, terkadang dokter meresepkan antibiotik untuk dihabiskan dalam 10 bahkan 14 hari. Dalam kasus infeksi saluran kemih yang berulang, Anda bisa diminta untuk tetap mengonsumsi antibiotik hingga 6 bulan atau lebih. Bosan minum obat? Rasa itu bisa saja muncul ketika sudah terus-menurus mengonsumsi obat tersebut.

Bahkan Anda mungkin berpikir untuk menghentikan konsumsi antibiotik itu, toh saluran kemih sudah tidak sakit lagi dan buang air kecil pun sudah kembali normal. Tetapi, langkah itu tidak bijaksana. Menghentikan konsumsi antibiotik sebelum waktunya hanya akan menambah buruk kondisi infeksi karena bakteri pemicu infeksi saluran kemih belum sepenuhnya hilang dari tubuh.

Apakah ada efek sampingnya?

Semua obat yang katanya alami pun, pasti memiliki efek sampingnya, tidak terkecuali antibiotik saluran kemih. Untuk antibiotik saluran kemih sendiri, efek samping yang ditimbulkan bisa berupa diare, mual atau muntah, sakit kepala, ruam, dan kerusakan pada otot tendon atau saraf.

Oleh karena itu, untuk meminimalisir efek samping ini, jangan lupa memberi tahu dokter jika Anda memiliki alergi antibiotik atau obat tertentu. Jangan lupa juga untuk kembali memeriksakan diri ke dokter jika masa konsumsi antibiotik sudah selesai demi memastikan ISK kamu sudah benar-benar sembuh.