Mengenal Glaukoma Kongenital Primer, Gangguan Mata yang Terjadi pada Bayi

Mungkin istilah glaukoma bukanlah hal asing bagi sebagian orang. Namun, tahukah Anda mengenai glaukoma kongenital primer?

Biasanya orang yang berusia 60 tahun keatas memiliki risiko lebih tinggi mengalami glaukoma, tetapi berbeda dengan glaukoma kongenital primer yang terjadi pada bayi atau anak-anak. Kondisi ini adalah hal yang langka karena hanya terjadi pada 1 diantara 1.000 bayi.  

Glaukoma kongenital primer merupakan gangguan penglihatan yang disebabkan adanya peningkatan tekanan cairan mata pada saraf optik. Penyakit ini terjadi sejak lahir, sehingga glaukoma kongenital primer ini adalah glaukoma yang terjadi pada anak-anak. 

Kondisi ini ditandai dengan bola mata yang membesar karena terdapat tekanan intraokular dan peregangan sklera, sehingga menyebabkan gangguan penglihatan. Glaukoma pada bayi ini bisa dideteksi saat baru lahir atau pada usia 3 hingga 6 bulan. Namun jika penderita tidak menunjukkan gejala, kondisi tersebut didiagnosis pada saat usia maksimal 3 tahun.

Tanda dan Gejala Glaukoma Kongenital Primer

Beberapa tanda dan gejala yang dialami oleh anak jika memiliki kemungkinan glaukoma kongenital primer, diantaranya adalah:

  • Mata berair berlebihan
  • Kejang pada kelopak mata (spasme)
  • Mata tampak keruh
  • Mata lebih besar pada 1 bagian
  • Mata merah
  • Penglihatan terganggu
  • Sensitif terhadap cahaya

Selain itu, terdapat gejala lanjutan yang bisa dialami saat glaukoma kongenital primer semakin parah, yaitu seperti:

  • Bola mata membesar
  • Selaput bening pada mata berubah menjadi keruh atau berwarna putih yang cenderung keabu-abuan
  • Fungsi penglihatan semakin menurun
  • Anak sering tidak melihat sesuatu karena lapang pandang mata menjadi sempit

Penyebab Glaukoma Kongenital Primer

Pada mata yang sehat, terdapat cairan yang berfungsi untuk memberikan nutrisi yang disebut dengan aqueous humor. Cairan ini juga berguna untuk menjaga bentuk bola mata. 

Mata akan memproduksi cairan tersebut secara konstan. Hal ini dikarenakan cairan aqueous humor yang telah tersirkulasi akan keluar melalui jaringan trabekular ke aliran darah, sehingga perlu cairan pengganti untuk tetap menjaga fungsinya.

Namun, terdapat kelainan dalam drainase cairan mata pada penderita glaukoma kongenital primer yang menyebabkan sirkulasi cairan mata terganggu. Cairan tersebut tidak bisa keluar sehingga akan menyebabkan penumpukan karena mata terus menghasilkan cairan aqueous humor. Saat cairan menumpuk, maka dapat meningkatkan tekanan di dalam bola mata.

Saat tekanan terus meningkat, saraf optik akan tertekan dan menjadi rusak. Jika terus dibiarkan tanpa penanganan, saraf optik yang rusak akan menyebabkan kebutaan.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab gangguan drainase cairan pada mata bayi saat baru lahir. Pada beberapa kasus, glaukoma kongenital primer dapat disebabkan karena faktor genetik yang diturunkan oleh orang tua. Namun, ada juga kondisi yang terjadi begitu saja tanpa adanya peranan faktor genetik.

Pengobatan Glaukoma Kongenital Primer

Saat mendiagnosa pasien dengan kondisi glaukoma kongenital primer, penanganan utama yang disarankan oleh dokter adalah melalui tindakan operasi. 

Jenis operasi yang sering dilakukan adalah goniotomi, namun tindakan trabekulektomi juga bisa dilakukan jika kornea mata terlalu berkabut atau keruh.

Kedua jenis operasi ini memiliki angka keberhasilan yang besar, yaitu 80 persen. Meskipun begitu, setelah tindakan operasi tetap harus dilakukan kontrol rutin untuk mendeteksi komplikasi serius yang mungkin terjadi. Komplikasi tersebut meliputi:

  • Infeksi
  • Kerusakan lensa
  • Peradangan pada uvea mata
  • Pembengkakan bagian dalam mata
  • Tekanan di dalam mata yang rendah
  • Penumpukan darah pada hifema atau bilik depan mata

Operasi memang dianggap sebagai langkah utama dalam penanganan glaukoma kongenital primer. Namun, tindakan akan dilakukan hanya jika diagnosis sudah dipastikan karena terlalu berisiko untuk membius bayi. Selain itu, dokter juga mungkin akan meresepkan obat tertentu untuk membantu mengontrol tekanan dalam mata pasca operasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *